Jumat, 21 Mei 2021



Teringat kisah perjuangan seorang perempuan yang berangkat dari literasi. Mungkin beliau lah pelopor pemikiran yang tak biasa ini. Bahwa perjuangan mengusir penjajahan dengan kemampuan literasi bukan tajamnya senjata dan bambu runcing, faktanya berdampak nyata dan digdaya. Tentu, tak susah menebaknya, ya! R.A Kartini.

Lahir saat penjajahan memasuki era modern, dimana alat-alat produksi didatangkan untuk mendukung produktivitas ‘potensi’ tanah jajahan, sarana transportasi banyak dibangun sebagai support system. Beberapa sekolah pun didirikan agar sedikit pribumi bisa bekerja dengan alat-alat modern tersebut. Pendidikan Eropa, bahasa Belanda, mengalir hingga ke Pribumi, meski sedikit.

Kartini bisa dibilang perempuan Jawa yang pertama mengecapnya. Adat istiadat jawa saat itu sangatlah kolot, tidak mengijinkan perempuan pergi keluar rumah untuk bersekolah atau menimba ilmu lainnya. Dengan kekuasaan ayahanda, seorang Bupati Jepara, Kartini bisa memperoleh pendidikan formal (dengan jalan memaksa). Sekolah tingkat dasar, Sekolah Rakyat. Ini adalah sekolah tingkat pertama dan satu-satunya jenjang sekolah yang pernah didapatkannya.

Belajar di sekolah dasar pemerintah, Kartini bersinggungan terus dengan bahasa Belanda, sebagai bahasa pengantar dan pergaulannya dengan teman-teman Belanda. Belum banyak dari bahasa Eropa tersebut yang beliau kuasai, sekolah harus berakhir pada tahun keenam. Dan terpaksa harus berhenti disitu, walau keinginan lanjut sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, sangatlah kuat. Kembali, tradisi Jawa menyeret raganya ke dalam tembok tinggi rumah kabupaten, masuk ke masa pingitan.

Tak sudi hanya menerima nasib dengan sia-sia. Kartini tetap ‘sekolah’ dalam rumahnya. Membaca berbagai buku dan surat kabar yang dikirim ke kediaman ayahanda, yang sebagian besar berbahasa Belanda. Bercakap bahasa Belanda dengan guru keterampilan yang didatangkan ke rumah dan sesekali dengan ayahanda dan adik-adik perempuan. Korespondensi dengan teman-teman Belandanya atau kenalan yang beliau ketahui dari surat kabar juga dilakoni untuk mengasah kemampuan bahasanya, mengutarakan pendapat, pemikiran dan gagasan. Tak pelak, kemampuan berbahasanya makin lama, makin mahir. Ilmu dan pengetahuannya mengembara hingga ke penjuru Eropa. Wawasannya meluas, pemikirannya makin kritis, perencanaanya tergambar jelas, menuju perjuangan pendidikan untuk rakyat pribumi. Harapannya kebodohan, kemiskinan dan kesengsaraan rakyat mampu buyar.

Saat masa kebebasannya dikembalikan, pergerakannya makin gagah. Diplomasi ke pejabat-pejabat Belanda yang dikenal dari ayahanda, baik secara langsung, dan atau dengan jalan korespondensi dengan pejabat di negeri Belanda. Membantu pemasaran hasil karya seni pribumi ke luar negeri, membuat artikel-artikel budaya dan gagasan untuk perbaikan hidup rakyat, dan lain-lain. Lagi-lagi pena-nya beraksi, berorasi, berarti.

Beragam bacaan dilahapnya, tentang kesetaraan, emansipasi perempuan, demokrasi, hak-hak manusia, sejarah, prosa, seni sastra, berita dalam dan luar negeri dan lain sebagainya. Membuka mata mawasnya, batinnya terusik, pikirannya merdeka, kritikan banyak terbersit, diplomasi makin sengit, semangat pembaharu, gerakan nyata berdampak. Sesuatu hal yang luar biasa yang bisa dilakukan, dipikirkan dan diangankan oleh perempuan pada jamannya. Bahwa pendidikan dan intelektualitas yang dienyam tidak ditelan sendiri, berupaya orang lain, jamak, rakyat, juga mendapatkan mutiara pendidikan. Agar bersama-sama terang, berkilauan, menerangi belantara Hindia/ Indonesia, mengusir gelap penjajahan.

Begitu rapat, ketat, benteng kolonial menyimpan ilmu pengetahuan Eropa. Berusaha sedikit mungkin manusia pribumi yang mengecapnya agar bisa selama-lamanya mereka jadi golongan lebih pintar, berkuasa dan menjadi tuan di tanah jajahan. Begitu halnya dengan bahasa, mereka sangat murka, bila manusia, pegawai, pelajar pribumi mampu menguasai bahasanya. Merasa terintimdasi, bila makin banyak lagi yang mahir berbahasa Belanda, karena tabir rahasia mereka perlahan tersibak, benteng kokohnya terus dicongkel, dari lubang kecil terang itu mencuat, tak heran bila kelamaan jadi membesar dan pribumi bisa menerobos ke dalamnya. Menuntut, mengoyak, dan memporak-porandakan kekuasaan kolonial.

Penguasaan Kartini atas bahasa Belanda adalah alat penghubung sangat penting. Dengan alat ini ia dapat memasuki dunia Barat, mempelajari sejarah perjuangan Belanda melawan Portugis, kenal dan tahu tentang liberalisasi, emansipasi perempuan dan lain-lain. Dengan alat ini pula ia dapat melakukan kritik dan penolakan terhadap tingkah orang-orang Belanda dan dapat menyampaikan aspirasi keinginan Rakyatnya ke percaturan politik yang berarti. Jadi, menguasai bahasa Belanda merupakan perjuangan sengit bagi Pribumi di masa itu. Mereka yang telah menguasai bahasa Belanda, pada mendirikan kursus bahasa itu buat percepatan meluasnya kemajuan, tegaknya demokrasi, meningkatnya harga manusia. Dengan penguasaan bahasa ini, tidak ada sesuatu yang bisa berjalan tanpa diketahui oleh Pribumi. Pertemuan Dunia Barat dengan Dunia Pribumi menjadi lebih cepat, barisan intelektualitas Pribumi makin berderet. Makin merongrong kekuasaan kolonial. Seperti yang dipaparkan oleh Kartini dalam tulisan-tulisannya.

Demikian, bangsa ini punya sejarah panjang tentang beragam aktivitas literasi. Salah satu aspek yang sangat mendukung tegaknya demokrasi di negeri pertiwi. Mencerdaskan rakyatnya hingga tak lagi menjadi barisan peng-amin. Mengusir gelap penjajahan dengan membesarnya pelita pendidikan yang menerangi pribumi. Secara sederhana, literasi memang dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Sederhana namun dampaknya sangat besar dalam keberhasilan meraih kemerdekaan bangsa.

Kalau kita lihat secara historis dan sosiologis, tingkat literasi yang tinggi adalah faktor yang paling mendukung sebuah bangsa menjadi unggul dan maju. Maka pondasi literasi yang telah dibangun susah payah oleh Kartini, keteladanan literasi kesehariannya haruslah dilestarikan, dibiasakan dalam laku hidup rakyat Indonesia. Melalui perempuan, pusat peradaban keluarga, pembangun peradaban bangsa, pembiasaan literasi mampu disuburkan hingga menjadi tradisi dan budaya bangsa.

Dimulai dari dirinya sendiri. Perempuan Indonesia bisa berkiblat dari kepribadiaan dan kebiasaan luhur ibu Kartini, terutama di bidang literasi. Tak terhalang oleh keterbatasan sumber daya, kondisi bangsa, dan raga yang ‘dipenjara’, beliau gigih belajar, membaca dan menulis, meningkatkan kemampuan bahasanya. Semata demi memperjuangkan perubahan. Perubahan kejahilian menjadi berintelektual, perubahan adat istiadat kolot pada tradisi yang menghormati hak-hak perempuan, perubahan penjajahan kolonial menjadi demokrasi kemerdekaan. Jadi, tak ada alasan lagi bagi perempuan merdeka di era globalisasi ini, untuk tidak melek literasi, menyuburkan literasi dengan membangun budaya literasi dalam diri dan keluarga masing-masing, menyemaikan spirit berliterasi di segala lini.

Seiring dengan perkembangannya, pemaknaan terhadap literasi pun menjadi lebih luas. Tak sekedar proses menerjemahkan dan mengukir lambang-lambang bahasa. Kemampuan literasi merupakan filter banjir dan derasnya arus informasi di era globalisasi. Rakyat mampu berpikir kritis, skeptis dan tidak terlalu cepat bereaksi, serta memberi aksi yang tepat, bijak dan positif. Dampak utama, tentu budaya literasi mampu meningkatkan ilmu dan pengetahuan sehingga budi pekerti rakyat terus tumbuh dan berkembang dengan baik.

The Literacy and Numeracy Secretariat, pada tahun 2009 menyatakan bahwa literasi pada akhirnya mampu membentuk masyarakat yang kritis dan dapat membantu mempersiapkan seseorang hidup dalam masyarakat berpengetahuan. Digitalisasi menyibak segala tabir, batas, informasi dan edukasi, semakin banyak dan luas rakyat yang terjangkau. Sumber daya kian berlimpah, namun spreading literasi tidak sebanding, sehingga semua itu tidak menjadi resources kemajuan, celakanya malah jadi korban hoax dan komersialisasi.

Jangan ragu, jangan malu, jadi perempuan yang gemar baca dan melek literasi. Kebiasaan itu melegenda dan sangat elegan. Panutan ideal untuk anak dan keluarga. Bila seorang perempuan, ibu, good literate dan well informed, tentu banyak teladan, pendidikan, aktivitas dan keputusan yang mengarah pemberdayaan dan kemajuan keluarga. Anak-anak terdidik dengan baik, keluarga bisa produktif dan bahagia. Keluarga-keluarga unggul muncul di segala penjuru, Indonesia kan mampu maju dan berjaya.










#kampungkomunitasip
#kabarKLIP
#kelasliterasiibuprofesional
#belanjarmenulis
#tantanganmenulis
#semestakaryauntukindonesia
#ibuprofesional2021


Referensi:
Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara
Abdillah, Fahri. 2021. Memahami Pengertian Literasi, Tujuan, dan Jenis-Jenisnya.
https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-literasi

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu celotehnya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!

Hestithinks . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates