Selasa, 18 Mei 2021

Sigarane nyowo


Dua tahun kebelakang mendengar suami teman SMA mendadak meninggal dunia, karena serangan jantung. Selang beberapa bulan, kembali ada kabar mengejutkan, suami sahabatku juga berpulang sebab kecelakaan kerja. Setelahnya, ramai berita di media massa, suami artis B mendadak meninggal dunia tanpa ada keluhan berarti. Masuk masa pandemi Covid-19 berita kematian makin ramai, berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi. Tak disangka, si penyanyi kharismatik, muda dan berbakat, si G,  meninggal dunia karena sakit yang dideritanya.  Artis sinetron T juga ditinggal istrinya untuk selama-lamanya terindikasi karena Covid-19. Entah berapa banyak tepatnya berita duka ini menggema di lingkaran terdekat dan yang tersiar di layar kaca. Teman salihah juga meninggal muda setelah hampir setahun bertarung melawan kanker, meninggalkan 3 anak yang masih kecil dan belia. Begitu juga nasib kerabat dekat. Teman kuliah juga berduka sebab ditinggal pasangannya tuk selama-lamanya. Seolah mendung duka masih menggelanyut di lingkaran kepala kita, belum beranjak jauh. 


Kesadaran makin terpukul saat kabar duka beruntun datang di jagat WAG orang tua siswa. Awalnya ayah teman sekelas si kakak pas kelas 1, dikabarkan meninggal dunia karena diabetes. Pekan depannya berita duka itu kembali menggema di WAG yang sama, bahwa ayah si L juga berpulang karena sakit. Deggg...dada ini makin sesak rasanya, karena bisa saja pekan depan, atau bahkan besoknya, ayah si kakak (aka suamiku) yang gantian dikabarkan meninggal. Astaghfirullah….laa hawla wa laa quwwata illa billah


Pilu, pedih...ikut sedih dan teriris hati ini mendengar banyak kabar teman kehilangan pasangan hidupnya, artis B dan A kini menjadi orang tua tunggal, anak-anak menjadi yatim atau piatu. Meski beberapa nama mampu mandiri secara finansial, pasti tak kurang pilunya ditinggal orang tercinta.  Terlebih untuk perempuan yang berperan sebagai full time mom pastinya beban derita itu makin berat rasanya. Memikirkan cara menghidupi anak-anak yang masih kecil-kecil, harus membesarkan mereka seorang diri, single fighter again. I feel you….Rasa berat kehilangan ditambah kebingungan nasib keluarga kedepannya, terasa menghimpit dada dan tak bisa membendung air mata duka. 


Sederetan nama adalah seorang pemuda, ibu muda, baru menjadi ayah, belum juga lima puluh tahun. Sehat dan aktif. Faktanya, mati tidak harus tua dulu, mati tidak selalu sakit dulu dan mati datang tanpa permisi. Tanda-tanda kadang jelas nampak, tapi seringnya tanpa kabar, datang mengejutkan. Ikhtiar sehat harus diupayakan walau maut tak melulu datang karena sebab, kadang karena suratan. Maka merancang husnul khotimah kudu segera disiapkan, jangan ditunda-tunda, walau usia masih muda. Agar saat meregang nyawa, umur ditutup dengan senyum ketakwaan.


Meski kita tidak siap, meski kita tidak mau dan tidak mampu. Sebagai orang yang beriman, harus ridho atas segala ketetapan Allah, qadha dan qadarNya. Betapa itu beratnya, walaupun sangat menyakitkan, kita tetap tak bisa menolaknya. Yakin saja bahwa ada hikmah atau rencana indah dibalik takdir yang telah ditetapkan. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Bahwa sudah disiapkan kemudahan setelah datang kesulitan. Demikian petunjuk dan janji-Nya dalam kalam. Obat penyembuh luka, entah berapa lama luka itu bisa sembuh. Waktu kan menjawabnya.


Belahan jiwa, sigarwo, kata ‘wong jowo’ adalah separuh hidup. Kepergiannya membuat hidup berjuang setengah mati. Setengah mati untuk tegar, ikhlas dan survive. Saat dia masih ada disisi, tak jarang kita berselisih, berkonflik. Namun ketidakhadirannya, baru terasa hampa hidup tanpanya. Betapa banyak kekurangannya yang membuat kita kesal dan mengelus dada, syukurilah dia masih bernyawa. Tak ada yang sempurna. Kita tetap bisa bahagia dengan meresponnya legawa dan sudut pandang yang beragam. Kabar-kabar duka sebagai pengingat, bagaimanapun, sosok pasangan adalah salah satu sumber kebahagiaan. Terima segala keunikannya sebagai bunga kehidupan, yang kadang wangi mekar semerbak, terkadang layu membusuk, kadang gagal berbunga, atau lama menguncup tak jua mekar. 


Kehilangan pasangan tuk selama-lamanya seakan dunia terbalik 360 derajat. Semua pasti berubah. Apalagi kondisi hati. Pasangan itu sigarwo, sigarane nyowo, belahan jiwa. Tentu, belahan jiwa yang tertinggal sakit, pedih, pilu dari dada hingga sekujur badan. Iman dan keturunan membuat mereka tegar, terus menjalani hidup kedepan. Hingga tak tega diri ini mengumbar potret kebahagiaan keluarga, apalagi kemesraan dengan pasangan ke media sosial. Mengingat beberapa sahabat, teman, kerabat dan orang lain, yang menahan pilunya tak lagi punya keluarga utuh, pasti menahan jatuhnya air mata merindukan belahan jiwanya. Dalam sujud dan tengadah tangan selalu kuselipkan doa-doa untukmu kawan, agar kekuatan, ketabahan dan pertolongan-Nya senantiasa mengalir dalam darah dan sukma. 


gambar ilustrasi kehilangan sigarwo, sigarane nyowo
sigarwo, sigarane nyowo



Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu celotehnya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!

Hestithinks . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates