Kamis, 24 Juni 2021


Peduli dan prihatin terhadap nasib sampah di sekitar yang makin menggunung sebenarnya sudah lama. Entah mulai kapan, yang paling diingat, setelah membaca novel pengarang kesayangan Dee Lestari yang berjudul Aroma Karsa. Novel yang awal ceritanya banyak berlatar di TPA Bantar Gebang, Bekasi, menggambarkan situasi TPA yang mirip dengan pulau sampah. Dimana mana sampah, menggunung, dan berhektar-hektar luasnya, dengan sedikit treatment, dan hanya mengandalkan proses busuk alami dan para pemulung untuk sedikit memilahnya.  Hampir semua tercampur aduk, sampah organik, anorganik, sampah rumah tangga, sampah hotel, sampah elektronik, sampah perkakas rumah, sampah onderdil kendaraan bermotor, sampah perabotan juga ada, dan lain sebagainya. TPA ini bukan suatu daerah yang zero neighborhood, disekitarnya banyak perkampungan warga, yang entah terpaksa memilih domisili disana karena mungkin harga tanahnya lebih murah atau karena pekerjaan/usahanya sebagai pemulung, pengepul barang bekas, sopir truk pengangkut sampah, dan lain-lain. Tentu bisa dibayangkan ya, aroma yang menguar dari TPA yang menggunung itu, bau busuk, memuakkan terus menyelimuti udara di Bantar Gebang. Apakah warga disana tidak terganggu? awalnya mungkin iya, dan terasa begitu memuakkan untuk pendatang baru, lama kelamaan hidung mereka jadi terbiasa membaui kebusukan, biasa makan dengan banyak lalat beterbangan, ngobrol tanpa masker walau aroma tak sedap dari TPA di kejauhan dan truk-truk sampah yang tiap hari lewat tanpa jeda. Lantas, bagaimana kualitas air disana, bisa kita perkirakan  seperti apa ya tingkat kelayakannya. Bagaimana dengan aspek kehidupan lainnya? Yang pasti banyak dampak buruk yang dirasakan oleh penduduk sekitar TPA Bantar Gebang, yang dimaklumi, dan lama kelamaan diabaikan

Sebenarnya pemilahan sampah sudah cukup lama diusahakan oleh pemerintah, Disediakannya tempat sampah 3 kantong, untuk sampah organik, sampah kertas/plastik, dan sampah kaca. Namun, proses pengumpulan sampah oleh petugas dan truk pengangkut sampah masih kurang konsisten taat pemilahan ini. Hal ini juga jamak diterapkan pada penangan sampah di rumah-rumah. Malah dari dalam rumah kebanyakan masih mencampur aduk semua sampah yang dikeluarkan. Petugas sampah tinggal angkut dari tong sampah di depan rumah, hanya mencari plastik dan kardus yang bisa dikumpulkan dan dijual

Peduli dan prihatin saja tidak cukup bila tidak ada aksi nyata. Maka diri ini memikirkan cara saya ikut andil mengatasi kebobrokan sistem sampah ini. Berbekal pemikiran dan kesadaran pribadi, melihat dan mengikuti cara influencer yang concern lingkungan. Berikut beberapa langkah saya mengurangi sampah:

1. Mengurangi sampah plastik

Membawa kantong belanja sendiri kemana-mana, di dalam tas, dalam mobil, di kantong motor. Bila sewaktu-waktu memerlukannya, untuk belanja atau membawa barang tidak perlu minta kantong plastik lagi pada penjual. Hanya membawa 'lipstik'nya saja saat membeli produk kemasan. Membawa kotak makan sendiri saat membeli masakan matang. Masih terus berusaha edukasi tukang sayur langganan yang mostly dagangannya dibungkus plastik, masih suka gemes liat tetangga atau orang yang masih aja menerima/ memberi kantong untuk belanjaan yang sedikit. Masih suka sebel pada orang/penjual yang mentertawakan saat kita mengeluarkan kantong belanja. Masih suka ngelus dada sama orang yang malas bawa kantong belanja sendiri. 

Membeli produk yang berukuran besar, agar tidak sering-sering membeli dan membuang kemasan plastiknya.


2. Memilah sampah

Ada 3 wadah sampah di rumah, walau tidak seragam bentuknya dan menggunakan apa yang sudah ada, Cukup sebagai sarana memilah. 

  1. Wadah sampah organik: kulit buah, sayur, sisa nasi yang sedikit terbuang, bumbu.
  2. Wadah sampah anorganik: plastik kemasan snack, masker sekali pakai, kertas pembungkus, dll. Dititipkan ke petugas sampah kompleks.
  3. Wadah sampah daur ulang: karton kemasan belanja online shop, botol-botol plastik, tetrapack susu dll. Diberikan kepada pemulung/ petugas sampah dengan kantong berbeda dari sampah anorganik, serta disounding bahwa tersebut adalah sampah daur ulang.
Berikut audit sampah, swa audit kuantitatif dan kualitatif, sebelumnya pernah juga ikut program dharma wanita yang kurang lebih seperti ini, pilah sampah dan timbang bobot per harinya. Kemudian ikut kunjungan ke Karang Taruna desa Sawojajar Malang, yang mengolah sampah kemasan plastik menjadi aneka ragam kerajinan. Kreatif dan menarik sekali 😊Dengan swa audit ini membantu memetakan langkah apa kedepannya untuk mampu mencegah lebih besar, agar pilah dan olah tidak menjadi lelah.

Berikut ini trash audit dari rumah Hesti :

SAMPAH ORGANIK
Sampah yg dihasilkanAsal sampah/kegiatan yang menghasilkan sampahJumlah/frekuensi per bulan
sisa kulit buahmakan harian/ kudapan/ ampas buat juice dan smoothies1 baskom per hari
sisa sayurmasak harian1 baskom per hari
sisa nasipinggiran magic com, pengukusan nasi1/4 piring per hari
kulit telurmasak harian1-2 telur per hari
sisa lauk hewanimasak harian1 piring per hari


SAMPAH ANORGANIK
Sampah yg dihasilkanAsal sampah/kegiatan yang menghasilkan sampahJumlah/frekuensi per bulan
Plastik kemasancamilan anak-anak, sabun cair, krupuk, sayur buah dari tukang sayur50 buah
Pouch minyakmenggoreng1 buah @2 L
Tissue, kapasmengelap permukaan, face cleaning1/4 pack
PembalutMenstruasi bulanan1 pack isi 12 buah



SAMPAH ORGANIK
Sampah yg dihasilkanCara mencegah/Prioritas penguranganHasil setelah kelas
alternatif penggantipendek/menengah/panjang
Sisa kulit buahdikomposkanmenengahbelajar mengompos
sisa sayurandikomposkanmenengahbelajar mengompos
sisa nasidikomposkanmenengahbelajar mengompos
kulit telurditumbukpendektau cara olah


SAMPAH ANORGANIK
Sampah yg dihasilkanCara mencegah/Prioritas penguranganHasil setelah kelas
alternatif penggantipendek/menengah/panjang
Plastik kemasanbeli snack dr grosiran bawa toplespendekplastik kemasan berkurang
kembalikan plastik ke tukang sayur25 buah
Pouch minyakbeli kemasan besar/jerigenmenengahjerigen bs di repurpose
Tissue, kapaspake lap kecil kecil, sapu tanganmenengahsampah tissue berkurang
Pembalutpake organic cuppanjangmulai cari refensi
dan testimoni


Dokumentasi hasil pilah sampah:

Pilah Sampah 3 Kategori


3. Mengolah sampah 

Sebenarnya sekitar 2 tahun lalu, saat masih berdomisili di Bogor, sudah mulai sadar untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan dari rumah dengan membuat 2 lubang biopori. Karena minimnya ilmu, cara yang sudah saya terapkan masih belum benar. Berkat jumagi Gemar Rapi bersama DK Wardani, jadi lebih tau tentang biopori dan mengompos. Makin semangat untuk belajar mengompos dan cara lain mengolah sampah organik. Sementara, ini dulu, kedepannya ingin juga belajar olah sampah anorganik jadi ecobrik, cara buat ecoenzym, dll. 

Berikut ceritaku tentang mulai belajar mengompos:

Sejak kenal DK Wardani dari Jumagi, ku follow akun ig-nya. Mencari materi mengompos dari ig-tv-nya dan menyimak. Berikut catatan yang bisa kurangkum dari ig tv Mengompos itu Mudah by DK Wardani
  1. Mantapkan niat
  2. Putuskan ingin mengompos aerob atau anaerob?
  3. Wadah yang berlubang (bila aerob)
  4. Unsur coklat : bahan yang keras, warna coklat, penyuplai Karbon (C), antara lain: daun/pelepah kering, kertas, sabut kelapa kering, kertas coklat/map, kemasan telor, dll
  5. Unsur hijau : sampah organik, dari dapur, yakni kulit buah, sayur, sisa nasi, sisa bumbu, empon-empon, dll
  6. Perbandingan unsur coklat : unsur hijau = 2:1
  7. Kelembaban: Butuh ditambahkan bioaktivator, sebagai pengurai sampah. Bisa beli, atau buat sendiri dari air cuci beras yang direndam 1-2 malam, dari air tape juga bisa.
  8. Pasokan pasukan mikro, dari pupuk kandang/kotoran hewan-hewan herbivora seperti sapi, kambing, kelinci, ayam.
  9. Tanah 
Awalnya membuat 'juglangan' didepan rumah, untuk wadah mengompos, niatnya ingin buat lubang biopori lagi seperti di Bogor, tapi pak kebun langganan tidak mampu karena alatnya terbatas. Disiapkan juga timba tinggi untuk mengompos. Timba bekas cat, yang dilubangi di bawah dan sisi-sisi timbanya. Ingin belajar mengompos dengan media wadah yang berbeda, namun sama-sama aerob. 

Jujur, masih fakir ilmu mengompos, namun kumulai saja, karena bila ditunda-tunda, setannya keburu memenangkan rasa malas tuk menguasai jiwa dan raga😅Masih belum tau berapa lama, bisa dibilang 'jadi kompos', belum tau cara memanen kompos, belum tau juga untuk apa kompos ini, karena tidak banyak tanaman di rumah. Harapannya, mendorong ku mulai bercocok tanam. Terdesak oleh tumpukan sampah organik dari dapur rumah yang tiap hari ada residu buah dan sayur segar dan challenge Gemar Rapi 😃maka kuniatkan diri untuk mulai mengompos. Learning by doing! Mencari referensi dari instagram DK Wardani, dan ada rencana membeli bukunya yang berjudul "Mengompos itu Mudah", namun masih menunggu tanggal cantik bulan depan, Super Sale, hehehe...

Bahagia rasanya sampah organik dapur tidak lagi menghiasai tong sampah luar yang dipungut oleh petugas sampah kompleks. Bahagia rasanya melihat hasil bumi (buah dan sayur) kembali ke bumi. Bahagia karena proses ini menjadi proses edukasi yang bernilai tinggi bagi anak-anak, karena ku libatkan anak-anak dalam tahap persiapan dan pengerjaan. Sedangkan pengurangan dan pemilahan sampah sudah cukup lama kutularkan pada mereka. 

Semoga langkah nyata ini bisa kontinyu dan konsisten diterapkan. Harapannya juga bisa menambah langkah/aksi lain terkait sampah dan penyelamatan bumi. Seperti: memakai produk-produk yang ramah lingkungan, belajar buat ecoenzym dan ecobrick, mulai menyukai dan banyak menanam, menularkan semangat aksi baik pada lingkungan sekitar, memberi teladan yang baik terkait peduli bumi dan sampah pada lingkungan terdekat.

Berikut dokumentasi proses persiapan dan belajar mengompos:

Pak kebun membuat 'juglangan"


Pak kebun melubangi bawah dan sisi-sisi timba



Mengisi 'unsur coklat' daun kering dari jalanan kompleks perumahan

    
bioaktivator 'rendaman air cucian beras 2 malam'







menambahkan bioaktivator pada sampah organik



#Challenge2gp5
#pemilahansampahchallenge


Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu celotehnya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!

Hestithinks . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates