Kamis, 30 September 2021

Saya Ibu Rumah Tangga, Tangga yang Menanjak
Saya Ibu Rumah Tangga, Tangga yang Menanjak

Awal Menyandang Ibu Rumah Tangga

Awal menjadi ibu rumah tangga lebih seperti masuk ke ruang transit, yang tak terkira, ternyata berkepanjangan. Meninggalkan karir di kota Surabaya karena mengikuti suami, demi cinta. Setahun pertama impian indah pernikahan sesuai bayangan. Memasuki tahun kedua, hadir anak, realita mulai datang dengan rupa sebenarnya. Habit suami mulai mengusik batas kesabaran. Bingung cara merawat bayi baru lahir, kata orang tua A, menurut tetangga B. Bayi yang masih hanya bisa nangis dan nenen, sukses menghadirkan baby blues di awal ku menjadi ibu. Tidak siap menjadi ibu!

Keseharian seputar rumah dan anak. Lupa dengan planning untuk kembali berkarir. Menanggalkan ijasah sarjana, karena tak tega meninggalkan bayi, demi cinta. Tak tega meninggalkan anak tuk mencari nafkah di luar rumah, demi cinta. Demi cinta pada suami, demi cinta pada anak, tapi abai cinta pada diri sendiri. Perlahan, diri terlebur dalam peran baru sebagai istri dan ibu yang punya tugas dan tanggung jawab bejibun, tak berujung. Lambat laun tak ada lagi aku, namun istri dan ibu, yang harus begini begitu, memikirkan ini itu, menuruti maunya dan maumu. Melihat suami puas, rasanya bahagia. Menatap anak tertawa rasanya gembira. Meletakkan bahagia pada respon suami dan anak atau ke orang lain, ternyata salah dan berbahaya. Ada saatnya respon tidak sesuai ekspektasi, imbasnya kecewa. Terkadang 'kerja' kita tidak diapresiasi, bisa sakit hati. Bila kita ditinggalkan/diabaikan, terasa nestapa. 

Makin sulit menerjemahkan kebutuhan pribadi, terutama kebutuhan batin. Pribadi jadi bias, jati diri terlebur, ibarat benda, bentuknya masih rancu. Kurang percaya diri, susah menetapkan keputusan, hingga menitipkan mimpi pada orang lain, pada suami, pada anak. Oh, kemanakah diriku? Diriku yang dulu? Punya mimpi jauh....Begini bila hanya bermodal cinta, alpa ilmunya. 

Awal jadi ibu rumah tangga, benar-benar seperti katak dalam tempurung. Saat itu belum ikut arus dalam per-medsos-an, dunia hanya seputar rumah dan anak. Bosan, lelah dan flat. Diri ini jadi makin sensitif dan bengis. Mudah tersinggung dan naik pitam. Diri makin jauh berbeda, emosian. Hubungan dengan suami kerap bersitegang, menghadapi anak kerap tak sabar. Padahal paham bahwa semua masalah bisa dibicarakan, padahal tahu benar marah bisa menyebabkan putusnya saraf-saraf dalam otak anak. Entah kenapa, ilmu parenting yang didapat dari bacaan menguap tak terendap. Bergemuruh segala rasa dalam dada, tercampur aduk rasa kesal, sesal, lelah, bosan, galau dan bimbang. Sesal dengan keputusan, merutuki keadaan, menyalahkan orang! 3 keahlian itu yang makin terasah saat awal menjadi ibu rumah tangga. Tak ada tempat ku mengadu dan berbagi saat itu, tak ada kiblat tuk ditiru, tak ada guru tuk menuntut  ilmu. Menangis sendirian adalah pelipur laraku. Aku sadar banyak yang salah dalam diriku. 

Sosok Ibu Rumah Tangga yang Profesional

Beruntung, membaca adalah salah satu kegemaran dan hiburan. Bertemulah dengan sosok ibu rumah tangga yang profesional, ibu Septi Peni Wulandani. Profil beliau diangkat dan diulas di salah satu tabloid wanita. Menarik sekali, ibu rumah tangga bisa menjadi profesional seperti halnya sebuah profesi. How come? tanda tanya saya begitu besar. Kepo akan sosoknya dan tertarik bergabung di komunitas yang beliau dirikan, Ibu Profesional. Saat itu, sekitar tahun 2014. Saya hanya bisa berkunjung ke websitenya, membaca sharing pengalaman ibu-ibu lain, karena belum ada grup Whatsapp di kota tempat tinggal saya dulu. Membaca cerita sharing dari para Ibu Profesional sangat berbeda dari cerita di sekitar saya. Ceritanya sangat beragam, solusinya inspiratif. Mampu menggugat diri untuk move on dari jahiliyah. Bahwa, masalah intern yang berkecamuk dalam rumah tangga saya, ada juga yang serupa mengalaminya, bahkan banyak juga yang lebih berat. Mereka punya cara mengatasinya dan sudi dibagi ke ibu lain. Itu sungguh berarti. Perasaan mulai tenang, merasa punya teman senasib. Punya tempat jujugan untuk belajar ilmu parenting.

Semenjak belajar di Ibu Profesional, perlahan, hati ini mulai menerima takdir. Sungguh, penerimaan ini tak mudah, namun dampaknya besar. Self talk! okey, I'am a housewife. So, what should to do to be happy and different? Just look in, mulai mendengar kedalam relung kalbu. "Ingin seperti apa hidupku ke depan, bagaimana caraku meraih itu, apa yang bisa membuatku bahagia, bagaimana caraku memperbaiki diri". Refleksi pun awalnya tak mudah, berkutat bagaimana agar saya bisa bahagia sebagai ibu rumah tangga dan punya impian untuk alasan maju ke depan. Next step adalah menerapkan cara-cara memperbaiki diri yang sudah didapatkan dari proses belajar. Prakteknya penuh tantangan. mulai dari malas, tidak konsisten, emosi belum stabil, distraksi hiburan, manajemen waktu yang buruk dan lain sebagainya. 

Pergulatan Diri, Temukan Kekuatan Diri

Perjalanan saya sebagai ibu rumah tangga lebih banyak pergulatan pada dalam diri sendiri, bukan faktor eksternal seperti halnya masalah ekonomi atau hal lain. Sepuluh tahun belum cukup menemukan berlian dalam diri. Semakin banyak belajar, semakin sadar begitu banyak salah saya disana-sini, makin merasa keluarga saya jauh dari ideal, makin memandang rumput tetangga yang terlihat lebih hijau dan indah. Perasaan insecure kerap menguasai relung, membuat diri terpuruk. Tsunami informasi, tak menyaring apa yang kubutuhkan menambah beban jiwa. Diri ini hanya melihat 'hasil indah' keluarga lain, tapi tidak mencari tahu bagaimana perjuangannya, seolah mudah, hanya perjuanganku saja yang susah.  

Tak mudah ternyata menjadi ibu yang bahagia. Karena kurang hadirnya syukur dan sabar di sana. Perlahan saya mulai menyadarinya. Menerapkan satu persatu ilmu yang didapat dari tiap jenjang perkuliahan di institut ibu profesional. One bit a time! Belajar menjadi bunda yang sayang dalam keluarga dan menjadi bunda yang lebih cekatan, cukup efektif memandu saya menjadi perempuan dan ibu yang on track dan menikmati peran dan bersungguh-sungguh menjalankan.

"Mau jadi ibu macam apa aku? Ingin dikenang sebagai ibu yang bagaimana di ingatan anak-anak?" 'bentuk ibu' ini yang pertama mencetus saya untuk membuat peta pikiran agar lebih terarah. Selanjutnya,  membuat 4 kuadran kekuatan dan kelemahan. Seperti infografis di bawah ini:

4 Kuadran kekuatan kelemahan
4 Kuadran kekuatan kelemahan

Kedepannyaa lebih fokus pada 2 kuadran yang disuka, mengasahnya agar lebih terampil dan bertambah deretan list 'aku tahu dan aku bisa'. Dan coba mensiasati 2 kuadran yang tidak kusuka. Peta kuadran ini kubagikan pada suami dan anak, walau tidak menjamin mereka bakal ingat selamanya dan nihil gesekan. Fokus saja pada kekuatan diri dulu, membuatku sibuk dan tak menuntut mereka untuk berubah begini begitu, tak lagi lewah pikir hal yang ambigu. Sejatinya, parenting adalah mendidik diri sendiri, first! Dengan tahu kekuatan diri merawat anak jadi lebih percaya diri. 

Saya Ibu Rumah Tangga, Tangga yang Menanjak

Tahun demi tahun progress kemajuan saya sebagai ibu patut dibanggakan. Selangkah demi selangkah berubah, makin maju dan break my limit. Bila dibuat list, saya patut bangga karena:

  • Aku merawat anak sejak bayi dengan tangan sendiri, tanpa bantuan orang tua atau pengasuh
  • Anakku melewati milestone tumbuh kembangnya sesuai dengan usianya
  • Anakku jarang sakit, jarang minum obat kimia
  • Aku mampu mengASIhi ekslusif hingga 2 tahun
  • Anakku dengan mudah melewati toilet training, sejak usia 1 tahun lebih sedikit
  • Anakku sudah tidak mengompol sejak 3 tahun
  • Melewati masa sapih ASI tanpa halangan yang berat
  • Anakku bisa naik sepeda karena ku melatihnya
  • Anakku bisa baca tulis dengan aku sebagai guru pertama yang mengajarinya
  • Anakku bisa iqro Al-Quran, akulah yang pertama kali mengajarinya
  • Anakku bisa berenang karena aku yang melatihnya
  • Anakku gemar olah raga karena meniru ibunya
  • Anakku suka baca buku karena melihat ibunya yang gemar membaca buku
  • Aku mampu mempertahankan berat badan ideal tidak lebih dari 55 kg
  • Aku mampu create blog otodidak
  • Aku mampu belajar teknologi terupdate, design slide Power Point, StreamYard, Canva, Google Drive
  • Aku cakap dan cerdas digital dan mampu kulatih pada anak
  • Aku memberanikan diri menjadi pengurus komunitas Ibu Profesional
  • Aku mau mulai merubah gaya hidup menjadi lebih selaras alam dan berkelanjutan. Mulai berkebun dari rumah, memilah sampah, mengolah sampah hingga mengurangi konsumsi.
Hal yang paling kubanggakan adalah kini saya menjadi sosok perempuan yang lebih dekat dan taat pada-Nya serta selalu ingin menjadi lebih baik dari kemarin dan masa lalu. Saya bisa lebih sering shalat dini hari, karena bisa mengganti tidur di siang hari. Saya bahagia menjadi orang yang paling awal bangun dan paling akhir tidur, demi menghandle rumah tangga. Keleluasan waktu yang mungkin tak saya dapatkan bila harus bekerja di luar rumah. Saat paham bahwa lelah yang kita rasakan adalah nikmatnya ibadah, maka yang dirasa adalah ikhlas dan bahagia. 

Nikmatnya bisa terus membersamai anak semenjak bayi, mungkin impian semua ibu. Lantas, kenapa saya jadi malu dan insecure? Pernah saya mengikuti kajian, bahwa permasalahan bullying, kekerasan dan bermacam masalah sosial lebih banyak disebabkan kurang terpenuhinya tangki cinta anak, karena orang tua yang abai, kurang ilmu, kurang waktu karena sibuk mencari nafkah dan lain sebaginya. Bayangkan bila semua perempuan lebih memilih berkarir dan keluar rumah menjemput nafkah, Semua anak disub-kontrakkan pada pihak lain, bagaimana jadinya generasi penerus bangsa. Ibu rumah tangga harus bahagia hingga meluberkan bahagia dan cintanya pada anak dan pasangan, hingga tangki cinta mereka penuh semua.  Dengan menjalankan peran ibu rumah tangga penuh kesungguhan, sama dengan bekerja seperti halnya seorang pekerja profesional. Semua ibu bekerja, baik itu di ranah publik atau di rumah/domestik. Keduanya mempunyai peran mulia 

Dari Rumah untuk Dunia

Di komunitas Ibu Profesional saya belajar banyak hal yang membuat berdaya sebagai perempuan, sehingga punya jati diri. Sekaligus bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu, yang cekatan dalam merawat dan mendidik anak serta mengelola keluarga. Dari rumah, kita sedang mempersiapkan generasi penerus yang unggul, membangun peradaban bangsa. Dari rumah untuk dunia. Saya memang ibu rumah tangga, tangga yang menanjak menuju keatas. Terus naik demi perubahan yang lebih baik. Begitu sekelumit cerita saya sebagai ibu rumah tangga. Kalian kan mendapatkan banyak lagi cerita inspiratif dari perempuan/ibu lain, yang berhasil menemukan masalahnya dan merubahnya menjadi tantangan yang mampu ditaklukkannya. Merekalah para ibu pembaharu. Mari kita ikuti cerita mereka berjuang menaklukkan tantangannya dalam Konferensi Ibu Pembaharu tanggal 18-22 Desember 2021. 

Dan cerita para ibu pembaharu lain yang related dengan 6 tema yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, yakni: 

Isu dan Tema Konferensi Ibu Pembaharu


Tema yang related dengan dunia ibu dan perempuan. Kita bisa berkontribusi positif mendukung suksesnya Program Pembangunan yang Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDG) dengan mengikuti Konferensi Ibu Pembaharu ini, karena akan banyak sekali bahasan dan aksi nyata mendukung SDG tersebut. Jangan sampai ketinggalan informasi dan pendaftarannya yaa, terbuka untuk umum. Sila kunjungi www.ibuprofesional.com untuk informasi lebih lengkap dan pendaftarannya. 





2 comments

Ah keren banget mba hesti, the real masalah dianggap sebagai tantangan dan fokus pada solusi. Proud ;)

REPLY

Salam kenal Mamamed kuh,

Keren banget tulisannya...

REPLY

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu celotehnya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!

Hestithinks . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates