Rabu, 13 Oktober 2021

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak
Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak


Menularkan Kegemaran Bersedekah

Ada satu cara sedekah yang suka saya kerjakan sejak dulu kala dan terus saya tularkan pada anak. Yakni, tidak mengambil uang kembalian saat membeli suatu produk/jasa. Misalnya saat membeli 3 bakpao seharga 9 ribu, uang kembalian seribu saya tolak saat dikembalikan. Atau saat membeli boneka si dedek di pasar seharga 45 ribu, saya beri 50 ribu tanpa mengambil uang kembaliannya. Terlihat 'kecil' memang sedekahnya, namun hal ini rutin saya kerjakan. Pada pedagang yang sering lewat rumah, seperti pedagang bakpao, angsle, tahu, sayur, jamu, dan lain-lain. Namun untuk pedagang yang saya temui di luar kompleks rumah biasanya saya beri lebih banyak, melihat kondisi si pedagang juga, tentunya. Pernah suatu waktu, bertemu pedagang cobek batu yang berjalan. Terlihat berat membawa beberapa cobek batu tersebut karena terlihat si pedagang sudah lanjut usia, saya tanya, katanya berasal dari Kebumen, luar kota. Iba saya dibuatnya, jauh-jauh dari Jawa Tengah, membawa dagangan yang (mungkin) jarang dibeli orang. Tanpa mikir panjang, saya beli satu cobek (walau sebenarnya tidak butuh  cobek saat itu) dan saya beri uang lebih banyak dari harga jualnya. Anak saya bertanya, kenapa beli cobek itu padahal saya jarang banget masak dengan bumbu uleg, sebagian besar pakai bumbu jadi. Saya ceritakan bahwa saya tidak membeli barang, namun bersedekah. Jadi, pertimbangannya tidak lagi butuh/tidak butuh.

Dan satu lagi, saya bukan tim ibu-ibu yang suka nawar dagangan (apalagi dengan sadis)! Berapapun pedagang tawarkan saya deal saja bila bertransaksi. Niatkan bersedekah atau membantu orang. Saya jelaskan pada anak bahwa para pedagang kecil itu memperoleh untung yang tak seberapa, yang mungkin hanya cukup untuk makan, menyambung hidup. Makanya jangan ragu memberi uang lebih bila bertransaksi. 

Anak-anak jarang jauh dari jangkauan saya, terlebih saat pandemi. Si mamas, sulung saya yang 12 tahun sudah setahun lebih ini belajar dari rumah. Lebih sering di rumah, membuatnya lebih sering jajan dan ikut saya berbelanja. Transaksi pembayaran sering saya serahkan padanya. Sehingga tahu betul kebiasaan ibunya. Terkadang juga saya sedikit berkelakar kenapa saya beli ini itu, walaupun sebenarnya kurang membutuhkan. Atau membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, karena suatu alasan. Bukan mengajarinya untuk boros. Namun, ini salah satu cara membantu orang yang berusaha mendapat penghasilan. Saya sering tunjukkan pada anak, betapa mulianya pedagang-pedagang kecil itu, (ada) yang sudah lanjut usia, masih bersusah payah berdagang keliling, atau berpanas-panas di pasar untuk mendapat penghasilan, tidak meminta-minta di pinggir jalan. Ada ibu-ibu yang (terpaksa) harus membawa balitanya berdagang untuk mendapat penghasilan, karena tidak memungkinkan ditinggal di rumah. Maka, pada merekalah kita harus banyak memberi, bukan pada pengemis. 

Semakin lama si mamas juga melakukan hal yang sama. Dia membayar 10 ribu untuk baksonya yang seharga 8 ribu, membayar 15 ribu untuk beli siomay yang harganya 12 ribu. Dan kini setiap transaksi pembelian yang ada uang kembalian 'kecil' selalu dia beri kembali ke pedagangnya. Ada satu waktu, dimana kami akan pergi ke Pasar Besar di tengah kota untuk suatu keperluan, dia menyiapkan beberapa uang baru (angpao lebaran tahun ini) untuk dibagi ke pedagang-pedagang kecil dan para tukang becak yang mangkal. 
Saya hanya berpesan: "coba nak kau perhatikan ekspresi orang-orang yang kau beri sedekah itu". Sebagian besar mereka sangat berterima kasih, ada juga yang sampai berkaca-kaca 
"padahal cuma diberi 20 ribu ya Ma?" tukas si mamas. 
"Iya nak, bagi mamas, bagi kita, 20 ribu itu sedikit yaa, namun bagi mereka serasa dapat rejeki besar. Karena hasil/untung dari berdagang mereka tidaklah besar, nak. Dari pagi sampai sore, kepanasan, kadang dingin kehujanan, hanya dapat untung yang mungkin hanya cukup untuk makan dan kebutuhan dasar saja" jelas saya
"Makanya mama ga nawar dagangannya dan ga ngambil kembaliannya" tambah saya

Bahagia Bersedekah

Berbagi sejatinya mengalirkan rejeki yang mampu meluaskan sumbernya. Bukan hanya itu, ada sensasi hangat dan bahagia yang menyeruak kalbu. Ajak anak mengenali dan merasakannya juga, dengan menatap binar mata mereka yang kita beri. Mengamati respon mereka, yang kadang luar biasa girang,  sontak berdiri dan membungkuk-bungkukkan punggung, ada yang tak henti merapalkan do'a-do'a kebaikan untuk kita dan beragam lainnya. Betapa uang yang 'kecil' bagi kita begitu membahagiakan mereka. 
"lain kali kita beri lebih banyak yaa, Ma!" sambut si mamas

Cara bersedekah ini menjadi kegemaran saya dan anak-anak, karena begitu banyak hikmah yang bisa didulang, antar lain:
  • Memberi dengan cara halus
  • Menambah semangat pada orang lain untuk terus berusaha bukan meminta-minta/mengemis
  • Membuat ketagihan berbuat kebaikan
  • Menghadirkan kebahagiaan dan rasa 'cukup'
  • Menambah rasa syukur dengan apa yang telah dimiliki 
Banyak cara bersedekah dan berbagi. Temukan cara yang paling bisa ditiru dan mengena di hati anak-anak, hingga menjadi kegemaran dan kebiasaan.

Baca juga:


Kecerdasan Spiritual

Meneladani dan membiasakan anak bersedekah dan berbagi adalah salah satu cara mengasah kecerdasan spiritualnya. Kecerdasan spiritual tidak selalu berkaitan dengan agama dan keyakinan yang dianut. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan (Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013).

Ciri kecerdasan spiritual seseorang itu tinggi antara lain senang berbuat baik, suka menolong, memiliki empati yang besar, mudah memaafkan, mampu memilih kebahagiaan, berpikir secara luas dengan beragam sudut pandang, merasa perlu memberi kontribusi dalam kehidupan dan punya selera humor.

Kenapa seorang anak harus memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi? UNTUK SUKSES!
Apakah kriteria sukses menurut anda?

Tentu kriteria sukses setiap orang memiliki parameter yang berbeda. Ada yang mengukur dari banyaknya kekayaan, tingginya jabatan, prestige karirnya, kesuksesan bisnisnya, kemapanan anak-anaknya dan lain sebagainya. Biasanya, parameter sukses orang tua berpengaruh terhadap parameter kesuksesan anak. Coba renungkan, parameter sukses apa yang selama ini kita tetapkan! Hanya sebatas indikator material saja kah?

Hasil penelitian dari Daniel Golemen (1995) menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% kecerdasan intelektual dan 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual. Maka tidaklah fair bila parameter kelulusan sekolah/ kenaikan kelas anak sekolah hanya berdasar nilai akademiknya. Tanpa mempertimbangkan akhlak dan karakter mulianya. Keliru, bila menilai anak hanya dari IQ, padahal nilai EQ anak berpengaruh besar pada kesuksesannya kelak. Yaitu, porsi 80% bersama dengan kecerdasan emosional dan sosial anak. Maka, penting sekali mengasah kecerdasan spiritual anak, disamping kecerdasan emosional dan sosial.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu mengenali diri sendiri, meliputi kesadaran diri, pengaturan diri dan motivasi diri. Sehingga anak memungkinkan hidupnya penuh arti, punya tujuan yang jelas, punya mimpi besar dan memegang teguh mimpinya serta berusaha mewujudkan mimpinya dengan segala daya yang dipunya hingga SUKSES!

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu: 1 Dekade Ibu Profesional

Beragam cara meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial anak, tiap orang tua mempunyai cara unik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam  Konferensi Ibu Pembaharu nantinya kita bisa belajar dari para ibu pembaharu, mendengarkan pengalamannya, belanja jam terbangnya dalam mendidik dan mengasuh anak, hingga resep menjadi ibu yang bahagia dan anaknya juga turut berbahagia. Cara-cara ibu pembaharu dalam mengasah kecerdasan spritual, emosional dan sosial anak, menarik sekali kita simak sebagai pembelajaran hidup. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak. 

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang. 

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional. 


Referensi: 
Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media


#1dekadeIbuProfesional
#darirumahuntukdunia
#konferensiibupembaharu
#ibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia
#ibuprofesionaluntukindonesia









1 comments:

Semangat Ibu Pembaharunya menular nih.

REPLY

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu celotehnya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!

Hestithinks . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates