Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara
Negeri 5 Menara

Setamat membaca huruf terakhir di buku Negeri 5 Menara, rasanya ingin kembali ke masa sekolah. Semestinya saya menemukan buku ini, semestinya saya baca ini di masa itu. Atau setidaknya ada yang menceritakan kisah ini pada saya di waktu dulu. Karena, bisa saja saya pun akan sampai pada cita-cita tinggi setinggi langit, atau mungkin tak sampai, namun jatuh diantara bintang-bintang. Tetap tinggi dan shinning

The fact is saya sudah berkepala empat dan emaknya dua anak.  Lantas, tidak useless menamatkan buku ini, menemukan banyak mantra digdaya dalam Negeri 5 Menara  sekarang menjadi influence hidup saya. Jadi menemukan salah satu bacaan 'bergizi' untuk ananda yang mulai akil baligh. Benar Bu, highly recommended untuk anak Anda setingkat SMP keatas! Karena mampu melecut daya juang dan daya lenting (resilience) anak! 

Awal cerita, Alif Fikri, sang pemeran utama Negeri 5 Menara menggambarkan 'negeri putih' yang tertutup salju di akhir tahun. Negeri impiannya, yang dengan kuasa Allah, Alif sampai menginjakkan kakinya. Masa perjuangan di masa lalu tetiba me-recall memorinya saat salah satu teman masa lalunya 'menyapa'. Pada jaman itu dunia media sosial belum begitu terbuka lebar seperti sekarang. Maka perlu penelusuran lebih jauh bila ingin menemukan teman masa lalumu. Maka, dimulailah kisah-kisah heroik Alif pada masa lalu, masa menimba ilmu di suatu pondok pesantren. 

Menimba ilmu di pondok pesantren bukanlah impian Alif. Salah satu lulusan terbaik setingkat SMP se-Bukittinggi ini bercita-cita meneruskan sekolah ke SMP favorit di Padang kemudian masuk ke ITB, institut teknologi terbaik se-Indonesia. Namun Amak, ibu kandung Alif, menghendaki ia masuk ke sekolah islam setingkat SMU. Harapannya Alif nantinya jadi pemimpin umat. Latar belakang keluarga yang kental dengan ajaran islam, berpandangan bila anak-anak pintar yang belajar islam nantinya kan mampu memajukan agama. Tak ada pilihan menolak, keputusan Amak adalah nazar beliau sejak Alif dalam kandungan. Dalam pertentangan batin itu, Alif memperoleh informasi rekomendasi sekolah islam yang bagus di tanah Jawa. Menurut surat pamannya yang sedang studi di Mesir itu, lulusan sekolah tersebut kualitasnya bagus, menguasai bahasa Inggris dan Arab. Seketika terbersit ide 'melarikan diri' kesana, sekalian saja jauh dari Amak dan rumah. Dari keputusan yang setengah hati, perjalanan itu dimulai....

Semenjak dulu kala, masa saya masih bersekolah, Pondok ini sangat terkenal di Jawa Timur. Ternyata juga terdengar gema nama besarnya seantero nusantara. Buktinya, para calon murid/santri yang datang mendaftar dari kota-kota dan desa hampir seluruh wilayah Indonesia. Setiap tahun ribuan murid mendaftar, walau hanya beberapa ratus saja yang diterima. Adalah Pondok Gontor di pelosok kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Buku Negeri 5 Menara mengaliaskan menjadi Pondok Madani (PM), anda akan mengetahui bahwa yang diceritakan itu adalah Pondok Gontor di halaman prakata penulis. 

Kemegahan Pondok Madani juga terlihat dari bangunan fisiknya. Buku Negeri 5 Menara ini digambarkan begitu besar dan luasnya kompleks pondok, yakni sekitar 15 hektare. Terdapat Masjid yang agung, aula, beberapa asrama dan rumah para guru, fasilitas pendukung yang cukup dan memadai, untuk literasi, seni dan olah raga. Swasembada  pangan dengan pertanian dan peternakan. Bukan karena megahnya pondok ini yang membuatnya begitu terkenal. Konon lulusannya mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan lancar,  banyak diterima di perguruan tinggi yang bagus di luar negeri dan dalam negeri, menjadi wirausaha sukses, ahli agama dan lain sebagainya. 

Dinamika kehidupan pondok dikisahkan dengan apik oleh penulis karena memang ini buku berdasar pengalaman pribadi penulis sewaktu menikmati pendidikan Pondok Gontor. Begitu banyak mutiara kehidupan terkandung dalam denyut aktivitas pondok. Islam menyelimuti atmosfer pendidikan dalam pondok. Rasa ikhlas menggerakkan hawa berkah dan semangat belajar. Guru ikhlas mendidik, murid berkhidmat pada guru. Penengakan disiplin tanpa pandang bulu. Rutin berolah raga membuat sehat jasmani rohani.

Baca juga:

           Tidak Ada Yang Tidak Bisa: Kisah Hidup Karmaka Surjaudaja

            Totto Chan:Gadis Cilik di Jendela

Disana Alif menjalani hidup yang benar-benar baru. Shock, lelah dan rasa sesal mendominasi diawal pendidikannya di pondok. Namun pertemuan dan persahabatannya dengan 5 anak dari daerah yang berbeda-beda membuatnya kuat dan semangat menjalani hari-hari. Persahabatan yang indah Sahibul Menara, begitu mereka menjuluki. 

Beragam kisah Alif bersama para sahabat dan teman dalam PM dituangkan dengan apik hingga menyeret hati untuk turut tersenyum, optimis, bersemangat, tertawa, tepuk tangan, bahagia, haru, ngilu, galau, sesak dada hingga meneteskan air mata.  Rasa itu berganti-ganti di setiap bab buku Negeri 5 Menara, penasaran dengan kisah selanjutnya. 

Pondok Madani (PM) laksana kawah candradimuka Alif dan para murid. Hidup digembleng lahir batin, habit baik dibangun berjamaah. Kecanduan belajar, gemar berolahraga, pola teratur, hidup sehat dan sederhana, disiplin mendarah daging, kerja keras, mengedepankan adab, fasih bermulti bahasa. Terkesan belajar keras dan kegiatan yang tak ada habisnya. Itulah hidup yang sebenarnya, sudah diperkenalkan dan diterima oleh anak-anak masa belajar. Agar mereka lebih siap, terbiasa dan selamat di dunia dan akhirat. 

Ujian, yang menjadi momok hampir semua anak yang bersekolah, begitu diagungkan, dikondisikan persiapannya agar semua siap dan bersemangat menjalaninya. Begitu pun dalam hidup, pasti ada ujian yang datang dan pergi, mau atau tidak harus dihadapi. Bila kita lebih bersiap dan punya bekal tentu kan lebih mudah dijalani. Di usia belia para santri sudah dihadapkan pada ujian berat. Terasa apa yang selama ini saya hadapi relatif ringan, belum apa-apa, tak pantas lah bila kerap terucap keluhan. Perjuangan mereka untuk lulus sangat keras, belajar hingga larut malam, lanjut belajar dini hari. Berjuang diatar rata-rata, bila ingin sukses diantara lainnya.


Man jadda wajada
Man jadda wajada

Alif tak menyangka, keputusannya meneruskan pendidikannya ke Pondok Madani (PM) yang tidak dipikirkan matang-matang dan lebih banyak karena faktor keterpaksaan, akhirnya berbuah kesyukuran. Bersyukur ditempa dalam pondok yang melatihnya menemukan kenikmatan ibadah, kecanduan belajar, menemukan kekuatan diri, memperkuat daya lenting diri dan keenam sahabatnya, Sahibul Menara. Faktor pendukung terbesar terwujudnya impian tertingginya, yang dulu seakan hanya mimpi belaka yang semegah awan dan setinggi langit. 

Bangun impian termegah, setinggi-tingginya. Mulailah mendirikannya seawal mungkin secara konsisten dan ikhitar di atas rata-rata. Terus belajar dan kerja keras. Kemudian berserah (tawakal) akan ketetapan Sang Kuasa serta genapkan dengan do'a. Allah Maha Mendengar! bila Dia berkehandak, maka terwujudlah, Kun Fayakun!

Some how, Alif dan para sahibul menara kini merengkuh mimpi-mimpi yang sering mereka angankan saat bercengkrama di bawah menara masjid. Mereka berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Di negeri 5 menara impian. Dengan kuasa-Nya, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing!

Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil....


Komentar

Postingan Populer