Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela

Buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela
Buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela

Membaca buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela membuka mata dan hati ini melihat lagi jiwa suci anak-anak. Kepolosan anak-anak yang menjadi kekuatan mereka. Keunikan masing-masing anak, bak batu-batu beraneka bentuk dan kilaunya. 

Membaca Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela mampu membuka sudut pandang orang tua. Sudut pandang orang tua (saya pun) sering kali menganggap dirinya benar dan tepat bagi anaknya, namun tidaklah demikian. Walau orang tua lah yang melahirkan ke dunia, mengetahui anak sejak pertama membuka mata.  Hendaknya kita perlu banyak 'mendengarkan dan membaca' mereka. 

Totto-Chan adalah seorang anak kecil, usia SD, yang punya rasa ingin tahu besar akan banyak hal. Sehingga, selama jam pelajaran sekolah berlangsung keaktifannya memuaskan rasa penasarannya sering 'dinilai' mengganggu kelas oleh gurunya. Seperti, sering menengok ke luar jendela dan memanggil para pemusik jalan. Kerap sekali membuka tutup laci meja, mondar mandir dalam kelas dan banyak lagi tingkahnya yang (lagi-lagi) menurut gurunya sangat mengganggu hingga ia dikeluarkan dari sekolah.

Mama Totto-Chan tidak langsung memarahi putrinya karena beberapa tingkahnya tersebut, hingga ia dikeluarkan dari sekolah. Beliau hanya mengajak Totto-Chan mencari sekolah lain yang lebih menyenangkan. Tanpa menjelaskan mengapa ia harus pindah sekolah. Ini sangatlah bijak, tidak men-judge nakal kelakuan putrinya, agar tetap percaya diri dan tidak memadamkan rasa ingin tahu putrinya yang besar. 

Sekolah baru itu ditempuh dengan melewati beberapa stasiun. Berpagar pohon-pohon dan terlihat gerbong-gerbong kereta di dalamnya. Secara fisik terlihat sangat berbeda dari sekolah konvensional pada umumnya, yang bertembok tinggi dan berpagar besi. Tidak banyak pertanyaan untuk mama Totto-Chan saat kepala sekolah menyambut mereka. Mr. Kobayashi-sang kepala sekolah-hanya mengajak Totto-Chan mengobrol dan memantik Totto-Chan untuk bercerita, tentang apa saja. Totto-Chan yang amat suka bicara sangat senang diberi kesempatan itu, maka berceritalah ia dari A hingga Z, hingga habis semua bahan ceritanya. Namun, sang kepala sekolah tetap berbinar mendengar keseluruhan cerita Totto-Chan yang panjang itu hingga tiba saatnya makan siang. Sejak pertemuan pertama itu, Totto-Chan 'jatuh hati' pada sang kepala sekolah.

Totto-Chan tak sabar menunggu hari pagi memulai sekolah di Tomoe Gakeun, sekolah barunya. Totto-Chan terkesima melihat suasana kelas di gerbong kereta pada hari pertama ia bersekolah. Ia mengamati satu persatu teman sekelasnya datang dan masuk kelas. Tidak ada penentuan bangku tempat duduk, siswa bebas ingin menempati bangku yang mana dan bahkan boleh duduk di bawah tanpa bangku. Guru kelas menuliskan beberapa poin bahasan dan kegiatan belajar dalam 1 hari itu, masing-masing siswa diberi kebebasan menentukan poin mana dulu yang akan mereka kerjakan sesuai dengan minatnya. Ada yang langsung belajar dengan aparatus kimia, yang lain memulai dengan menggambar, beberapa siswa memulai dengan membaca kemudian menuliskan. Atau langsung berdiskusi dengan guru. Siswa bebas memilih, berkonsentrasi dan konsekuensi dengan pilihannya itu. Totto-Chan surpraise dan sungguh bahagia dengan sistem belajar yang 'tidak biasa' ini. Ia jadi tidak tersiksa harus duduk anteng di bangku selama jam pelajaran. Totto-Chan jadi bisa belajar dan memuaskan rasa ingin tahunya yang besar dengan cara-cara yang ia pilih, yang ia suka. 

Totto-Chan tidak hanya belajar ilmu pengetahuan dengan cara-cara yang menyenangkan, namun juga belajar musik, seni, olah raga, etika, setia kawan, rasa saling menghormati dan menghargai dan banyak hal dalam segala aktivitas di sekolahnya. Tomoe Gakeun sangat menjaga fitrah anak, membiarkan mereka bertumbuh dan berkembang dengan caranya masing-masing, menumbuhkan rasa percaya diri. Belajar tidak hanya dalam kelas, belajar bisa dimana saja sambil jalan-jalan, berkemah, berenang, berlomba. Tidak hanya diajar oleh guru, tapi dengan petani langsung, pada buku-buku di perpustakaan, pada anak baru, pada anak yang lebih tua dan bahkan pada yang lebih muda.  Menunjukkan bahwa belajar bisa dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja, pada kelas tak terbatas. 

Beberapa ide Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan aktivitas sekolah diceritakan dalam buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela. Manfaat dan dampaknya pada siswa. Bisa menjadi referensi dan diadaptasi oleh penyelenggara pendidikan. Bagaimana seorang pendidik memberi kepercayaan penuh atas pilihan siswanya. Menyediakan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk bertumbuh dan berkemang sealamiah mungkin. Mendekatkan mereka pada alam, agar arif bijaksana pada semesta dan sesama serta pencipta-Nya. 


Sudut-Pandang-Mr-Kobayashi
Sudut Pandang Mr.Kobayashi

Sayangnya tak begitu lama Totto-Chan mengeyam pendidikan di Tomoe Gakuen. Pecahnya perang pacifik Jepang-Amerika membuat sekolahnya porak poranda dihujani bom Amerika. Totto-Chan sekeluarga dan juga penduduk di sekitarnya harus mengungsi ke tempak aman. Kondisi mencekam hingga sulit untuk bersekolah, bekerja dan menjalani hidup dengan normal dan aman. Tiga tahun yang amat mengesankan di Tomoe Gakuen, Totto-Chan- (yang di sekolahnya yang pertama dicap anak nakal) benar-benar bisa menjadi anak baik dan sangat percaya diri. 

Baca juga:

           Tidak Ada Yang Tidak Bisa: Kisah Hidup Karmaka Surjaudaja

            Negeri 5 Menara

Menulis buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, merupakan kisah masa sekolah dasar (SD) sang penulis. Sang penulis-Tetsuko Kuroyanagi- adalah Totto-Chan itu sendiri. Sebagai bentuk penghormatan pada guru pendidiknya, sang kepala sekolah, Mr. Kobayashi.  Harapannya juga, ingin banyak anak di Jepang dan di seluruh dunia menikmati pendidikan yang menyenangkan, bukan yang kaku dan mengebiri potensi fitrah anak. Bagaimana seorang pendidik (guru/kepala sekolah) mendidik dengan cara-cara yang menyenangkan dan kondisional tiap siswa yang unik. 

Mr Kobayashi yakin setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Beliau berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas. Beliau sangat menghargai segala sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. Pun, bagaimana seorang orang tua, percaya bahwa anaknya bisa sebelum anak itu percaya bahwa dia bisa. Bersama sekolah bergandeng tangan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang kondusif bagi anak-anak. 

Buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela terbit pada tahun 1982, di tahun yang sama saya lahir. Puluhan tahun yang lalu. Buku ini masih dicari, dibaca dan menjadi referensi banyak orang. Digubah menjadi beberapa bahasa, dicetak ulang kesekian kali hingga mampu menjangkau hampir seluruh dunia. Luar biasa! Di awal-awal terbit dan terkenalnya buku ini, banyak pendidik, orang tua hingga anak-anak membaca buku ini. Bahkan pemerintah Jepang mewajibkan buku ini menjadi referensi bagi penyelenggara pendidikan. Beberapa bab dalam buku menjadi kurikulum sekolah. 

Harapan besar Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, bila semua orang tua, semua pendidik bisa menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif bagi tumbuh kembang anak, sealamiah mungkin, sesuai fitrahnya. Maka tidak akan timbul masalah-masalah kenakalan remaja dan masalah sosial-psikologis anak. Harapan kita semua!

 



Komentar

Postingan Populer