Wasiat Usia 40

Apakah Anda sudah mencapai usia 40 tahun? Bagaimana perasaan Anda? Mengapa ada wasiat di usia 40 tahun?

Jamak kita dengar atau kita baca: 'life begin at forty'. Terdengar seperti titik kritis dalam periode hidup manusia. Usia produktif di fase akhir, menurutku. Bila diumpamakan buah, sudah, sangat matang. 

Periode baru di perubahan usia yang kini 'berkepala empat', memang terasa tidak jauh berbeda dari periode sebelumnya. Baiknya, men-trigger diri untuk jadi pribadi yang juga berubah. Berubah menjadi lebih baik, lebih positif. Arti positif ini bisa luas pemahamannya. Positif bisa berarti bertambah. Bertambah kebaikan, bertambah kebermanfaatan, bertambah ilmu, bertambah income/pendapatannya dan bertambah ke-positif-an lainnya.

Menelisik kitab suci umat Islam. Satu-satunya usia yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah usia 40. Usia empat puluh adalah usia yang istimewa. Istimewa dilihat dari angka 40. Dalam Al-Qur'an beberapa suratnya menyebutkan angka 40, bahkan beberapa kali.

"Kalau Anda perhatikan ayat-ayat Alquran, hadis-hadis Nabi Shallallahu alaihi wassallam, baik yang terkait penerimaan wahyu, fase kehidupan yang diutamakan, sampai proses kehidupan kita, maka rata-rata sering kita dapatkan angka 40," ujar Ustadz Adi Hidayat, seperti dikutip dari kanal YouTube Audio Dakwah, Jumat (26/11/2021).

Wasiat Usia 40


Sudah Purnamakah Kita?

Bunda Yati Priyati pada kanal YouTube Audio VDVC religi (14/07/2020) menyatakan usia 40 adalah usia purnama. Purnama biasanya muncul pada tanggal-tanggal pertengahan bulan. Bisa dikatakan usia 40 adalah usia tengah dalam fase hidup manusia. Purnama adalah bulan sempurna yang memancarkan cahaya penuh hingga ke bumi. Terangnya ditunggu-tunggu, membawa kecerahan dan kebahagiaan. Jaman lampau, saat listrik masih sangat terbatas, cahaya purnama adalah satu satunya penerang utama alam semesta. Ditunggu para manusia, bermain bersama di bawah cahaya purnama.  Meski kini, listrik sudah meluas dan berlimpah, cahaya purnama tetap dinanti. 

Mencapai empat puluh, mencapai angka paruh, sudah purnamakah kita? Cahaya apakah yang mampu kita pancarkan? Merasakah belum banyak memancarkan cahaya atau kehangatan terang?   

Tidak perlu menunggu menjadi seorang pendakwah atau ahli di suatu bidang. Kita bisa berbagi apa yang kita pahami dan kita kuasai serta yang kita punya. Sekecil apapun itu, bila itu sesuatu yang benar dan baik, bisa menjadi manfaat bagi sesama. Misal Anda seorang ibu rumah tangga. Menjalani peran sebagai ibu dengan bersungguh-sungguh, mempraktekkan ilmu parenting yang dipelajari dalam mendidik anak dan mengelola keluarga adalah suatu perbuatan penerang, selayaknya purnama yang menerangi dunia. 

Karena bukan hanya purnama yang mampu memancarkan terang. Menjadi cahaya bulan sabit juga bisa kita lakukan. Jikalau belum mampu memberi cahaya penuh layaknya purnama, kita hanya mampu memberi sesuatu yang kecil/sedikit, tak perlu berkecil hati. Amalan kecil niscaya membawa manfaat besar, bila kita ikhlas dan totalitas melepas. Bila belum mampu menjadi purnama, jadilah bulan sabit pada malam gelap!

Komentar

Postingan Populer